PKM Dosen Prodi Manajemen S-1 Universitas Pamulang dengan Tema ““PEMANFAATAN BOTOL BEKAS SEBAGAI PENYARING AIR BERSIH SEDERHANA BAGI WARGA DESA CICALENGKA KECAMATAN PAGEDANGAN KABUPATEN TANGERANG””

65e0ce9e-da46-4218-b8b0-333f8ad1994b

Foto Tim PKM Bersama Kepala Desa Cicalengka dan Warga

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejateraan umum sehingga menjadi modal dasar dan faktor utama pembangunan. Pemerintah Indonesia melalui DEPKES RI mensyaratkan kebutuhan air bersih bagi masyarakatnya sebesar 60 liter per orang per hari. Air bersih tersebut harus memenuhi persyaratan yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 32 tahun 2017 tentang standar baku kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan air minum untuk keperluan higiene sanitasi, kolam renang, solus per aqua, dan pemandian umum sebagai berikut: jernih, tidak bewarna, tidak berasa, tidak berbau, tidak beracun, PH netral dan bebas mikroorganisme.

Masalah mengenai air merupakan salah satu masalah yang sering dikeluhkan oleh warga Desa Cicalengka RT 002/RW 002 Kecamatan Pagedangan dimana umumnya masih menggunakan sumber air tanah atau air sumur untuk keperluan sehari-hari. Sumber air sumur warga Desa Cicalengka saat ini berwarna keruh, berpasir dan mengeluarkan bau yang kurang sedap. Masyarakat disana tidak menggunakan air sumur sebagai sumber air minum tetapi mereka hanya mengandalkannya untuk kebutuhan mencuci saja. Sedangkan untuk sumber air minum warga Desa Cicalengka RT 002/RW 002 Kecamatan Pagedangan terpaksa membeli air galon isi ulang. Kegiatan PKM ini dilakukan untuk mencari solusi untuk memecahkan permasalahan air bersih di wilayah penelitian di Desa Cicalengka RT 002/RW 002, Kecamatan Pagedangan.

Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Pamulang yang dilakukan oleh dosen-dosen program studi Manajemen berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan hangat dari tempat pelaksanaan kegiatan ini di Desa Cicalengka RT 002/RW 002, Kecamatan Pagedangan. Dari praktek pembuatan alat penjernihan air, didapatkan bahwa air yang semula warnanya keruh berubah menjadi lebih bening dan tidak berbau. Hal ini karena bahan-bahan yang digunakan, seperti batu kerikil, sabut kelapa, arang, ijuk, dan spons.

Diharapkan dengan pelatihan yang telah diberikan, mitra bisa mempraktekkan alat penjernih air di rumah masing-masing, dan dapat mentransfer ilmunya kepada warga lain dan dapat dimanfaatkan secara optimal.

 

Penulis

*DEDE SOLIHIN, S.E., M.M. (Dosen Program Studi Manajemen S1, Universitas Pamulang)